Nasional

Diduga Biaya Pemeliharaan Menguap di Unit Kebun Bukit Lima, GM Distrik I, Manager, dan Askep Bungkam Saat Dikonfirmasi Wartawan

Keterangan Foto : Kondisi Areal Afdeling III Diduga Pekerjaan Cemisan dan Dongkelan Anak Kayu Tidak Dilakukan Namun Ditutup.

Bukit Lima, Simalungun – Ganas News

Tidak dilakukannya pemeliharaan tanaman pengganggu seperti gulma dan anak kayu di areal perkebunan kelapa sawit dapat menimbulkan persaingan unsur hara, air, dan sinar matahari terhadap tanaman utama. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan produktivitas tanaman kelapa sawit secara signifikan.

Selain itu, buruknya pemeliharaan tanaman seperti tunasan dan cemisan anak kayu juga dapat memicu berbagai kerugian finansial bagi perusahaan, mulai dari penurunan produksi, pemborosan biaya pupuk, berkembangnya hama dan penyakit tanaman, membengkaknya biaya perawatan ulang, hingga terganggunya aktivitas panen di lapangan.

Berdasarkan pantauan Ganas News di Afdeling III Unit Kebun Bukit Lima, terlihat areal kebun dipenuhi anak kayuan yang diduga tidak dilakukan penyemprotan maupun pendongkelan. Akibatnya, kondisi areal tampak semak dan tidak terawat.

Tidak hanya itu, pekerjaan tunasan pelepah kelapa sawit di Afdeling III juga diduga tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya. Namun, pekerjaan tersebut diduga telah ditutup dalam laporan dan bahkan telah dibayarkan oleh pihak PTPN IV Regional II kepada vendor pelaksana.

Kondisi ini memunculkan dugaan adanya penyimpangan dalam kegiatan pemeliharaan tanaman menghasilkan di Afdeling III Unit Kebun Bukit Lima. Diduga pekerjaan pemeliharaan tidak dikerjakan di lapangan, namun anggaran yang telah dicairkan justru mengalir kepada sejumlah oknum, mulai dari Asisten Afdeling III, Askep, hingga Manager Kebun.

Saat dikonfirmasi Ganas News melalui pesan WhatsApp terkait dugaan menguapnya dana pemeliharaan tanaman kelapa sawit di bawah pengawasannya, General Manager Distrik I Masaeli Lahagu, Manager Kebun dan Askep Bukit Lima, hingga kini memilih bungkam dan tidak memberikan tanggapan resmi.

Mereka juga tidak menjawab konfirmasi terkait dugaan pekerjaan pemeliharaan yang tidak dilaksanakan, namun tetap ditutup dalam administrasi dan dibayarkan oleh manajemen PTPN IV Regional II.

Keterangan Foto : Pohon Kelapa Sawit di Afdeling III Tanaman Menghasilkan Tidak Dilakukan Tunasan.

DPP PAK-RI melalui Sekretarisnya, Fernando Panjaitan, turut menyoroti dugaan menguapnya biaya pemeliharaan tanaman menghasilkan di Afdeling III Unit Kebun Bukit Lima yang diduga telah berlangsung cukup lama.

Fernando mengatakan bahwa berdasarkan temuan di lapangan, pekerjaan pemeliharaan seperti tunasan dan cemisan anak kayu diduga memang tidak dikerjakan, meskipun anggaran pekerjaan tetap dicairkan.

“Diduga pekerjaan pemeliharaan seperti tunasan dan cemisan anak kayu di Afdeling III memang tidak dikerjakan. Namun, biaya yang dibayarkan kepada vendor diduga dibagi-bagi kepada sejumlah pihak, seperti asisten, Askep dan manager,” ujar Fernando Panjaitan.

Fernando juga mendesak Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Krisna Santosa, agar segera meminta Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit di Unit Kebun Bukit Lima.

“Kami dari DPP PAK-RI mendesak agar dilakukan audit menyeluruh oleh BPK-RI terhadap seluruh kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit di Unit Kebun Bukit Lima. Sebab, diduga banyak pekerjaan pemeliharaan bersifat fiktif atau tidak dikerjakan, namun tetap ditutup oleh manajemen kebun,” tegas Fernando.

Terpisah, Kepala Bagian Tanaman PTPN IV Regional II, Irvan Faisal Wiriadinata, juga telah dikonfirmasi Ganas News terkait dugaan menguapnya dana pemeliharaan tanaman di Afdeling III Unit Kebun Bukit Lima. Namun, hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan resmi.

(Red)

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini